sudah cukup lama sepertinya kau berlari liar di sebelahku, melompat lincah didalam pagar besi, dan berteriak saat ada orang asing mendekati pagar rumah. lebih kurang 3 tahun yang lalu kuadopsi kau dari peternakan di seberang rumah, kau turunan pertama dari aramir. di dalam ingatanku kau memiliki 5 saudara sedarah, 2 jantan dan 3 betina. kau diberi nama Vito corleone, dan saudara jantanmu Don Corleone, ahh aku lupa nama saudara betinamu -- maaf! kau tumbuh bersama anjing kecil bernama bill didalam satu kandang yang cukup besar, bahkan untuk kalian berdua duduk sembari menyeruput kopi hitam. hari terus berlari cepat, kau tumbuh semakin gagah, hingga mungkin kau berhasil mencuri pandangan orang. datang satu waktu, seorang berkumis tebal melempar sekarung uang dengan angkuh, meminta kau pindah ke kandang dingin miliknya. dengan senyum aku katakan tidak!
kusadari waktu ku bermain denganmu terbatas sekali, aku pulang larut malam dan hanya menyapa kau sambil lalu. pagi hari aku bangun teralu siang, dan kembali hanya menyapamu sambil lalu seraya aku berangkat menuju kampus. sangat jarang aku mengaduk nasi, dogfood dan potongan kepala ayam untuk santap soremu, semua disiapkan oleh yang lain, aku hanya bertanya vito makannya habis? bill? kelly? pandora? namun jauh lebih dari itu aku menginginkan waktu yang cukup lama untuk bermain, namun tidak pernah bisa.
sampai di suatu minggu sore sebelum aku pergi, aku melihat ke arah kandangmu dan kau terlihat tidak sehat. kau pucat, dan tatap matamu lemah, lehermu membesar sebesar bola tenis. aku menyadari kau sakit. namun itu hari minggu, tunggulah besok. sepulangnya, aku melihat kau terlihat kesakitan dan tidak bisa beristirahat, aku biarkan seperti itu. esok hari, kubawa kau bertemu dokter dengan keadaan kau sudah cukup lemah. bahkan kau terlihat kesulitan berdiri, sehingga aku membopongmu dari kandang menuju mobil. berselimut coklat, dan handuk putih kau tertidur dimobil, aku duduk di sebelahmu dan mengusap kepalamu.
dibantu seorang perawat aku membopong kamu kedalam ruang tindakan, ruangan ini berukuran 3x5m. terdapat 1 bangsal tindakan dan meja yang berisi gunting dan alat-alat bedah. kau terbaring lemah, pasrah menunggu tindakan selanjutnya. mereka mengambil sedikit darah dari kaki kananmu, lalu menusukkan jarum infus, di tempat yang sama. kau terlihat kesakitan, namun kau tidak melawan dan tidak berkata-kata. aku mendengar tarikan nafasmu berat sekali, sesak,seperti kau sedang tertimpa batu raksasa. aku duduk di samping bangsal tindakan ini, seraya mengusap kepalamu. tiba-tiba kau mengejang, kau kejang-kejang. dokter dan perawat siap menjaga kau, memastikan kau tetap tersadar. aku panik, berkeringat, aku takut kau pergi kembali walaupun akhirnya aku tahu kau akan kembali.
Dokter memanggilku, hasil pemeriksaan sudah keluar. Dokter berambut gondrong ini merupakan dokter langganan anjing piaraanku, dia ramah dan aku curiga dia bisa berbahasa anjing, bahkan berbahasa tupai. lalu dia menjelaskan penyakit apa yang vito derita. pembengkakan pada kelenjar katanya, aku menggeleng tak mengerti. tidak ada tulang yang nyangkut seperti hipotesa tololku. aku berkeras agar vito tetap dirawat dirumah, dan akhirnya dokter ini mengangguk. dia mengambil selang, ingin memasukkannya melalui hidung untuk memasukkan makanan menuju lambung langsung. aku katakan jangan. kasihan, sudahlah cukup satu sakitnya jangan ditambah dengan ini. vito masih mau menelan makanan kataku. setelah berpamitan dengan dokter,dibantu seorang perawat kami membopong vito kembali ke mobil. dengan infus yang masih terpasang vito terbaring lemah, aku duduk disampingnya dan kembali mengelus kepalanya.
aku kembali membopong vito dari mobil, malam itu vito akan tidur di teras atas rumah. aku sudah menutup sekelilingnya dengan kain agar tidak teralu banyak angin. aku membaringan vito di lantai beralaskan seprei cokelat. lalu mengambil tangga untuk menggantung botol cairan infus. malam itu aku duduk disana di teras atas tidak memejamkan mata, bukan untuk berlayar seperti yang biasanya aku lakukan dengan teman-teman. namun menemani vito.
semalam tidak memejamkan mata dan pagi itu aku mencoba memberikan makanan kepada vito. dan sepertinya ia menolak, dan muntah. aku akan mencobanya nanti siang. hari itu aku tidak kemana-mana memonitor vito sepanjang waktu. malam harinya vito kubaringkan di dalam kandang. aku melihatnya sesekali malam itu dan berteiak dari atas memanggil namanya. dan dia menoleh dengan tatapan sayu tidak seperti vito yang biasanya, vito gagah yang berteriak dan melompat kegirangan saat kupanggil. tidak seperti vito biasa yang bercanda manja dengan bill didalam kandang mereka. mungkin malam itu terakhir kalinya bill akan tidur bersama vito.
pagi hari selanjutnya aku terbangun pukul stengah 7. mungkin pagi itu pagi terakhir aku melihat vito dikandang besi itu. aku kembali membopong dia, tubuhnya penuh sisa muntahan semalam. mungkin dia semalam mutah karena sakit perutnya. bukan karena kebanyakan minum, kebanyakan menenggak cairan jahat yang sering kulakukan dengan awak kapalku. aku bersihkan sisa muntah itu dan dengan segera aku menyiapkan makanan. vito terbaring lemas di teras rumah, bill berlari bebas di halaman seperti tidak merasaakan vito akan pergi, pandora duduk manis didalam kandangnya, mungkin juga ia tidak menyadari vito akan pergi. sesampainya mengambil makanan aku kembali melihat vito muntah, aku kesal. aku pukul! tapi lalu aku sadar aku elus kembali. aku menyuapi vito, dan sepertinya dia memang menolak. aku sedikit tersenyum bengkak nya mulai mengecil, ahh besok sembuh mungkin dan aku bisa kembali sedikit lega dan pergi bermain. sesudah 9 suapan aku menghentikannya lalu memberikan obat. aku memasukkan obat kedalam mulutnya dan berulang kali terlempar keluar, aku berteriak ahhh! makan! pukul! dan aku memang emosi, gw sayang sama lo tp kok kayak lo ga ada effort buat sembuh! perlahan akhirnya masuk 3 obat itu. aku kembali membopong vito kedalam kandang dan membiarkannya disana.
aku duduk di teras bawah, sambil melihat dia dari jauh, cepat sembuh vito! aku masih belum menyadari malaikat hitam sedang dalam perjalanan kesini, akan menjemput si gagah itu. aku pergi ke atas untuk mandi lalu beristirahat di kamar. mungkin saat aku mandi, vito berteriak meminta tolong! malaikat hitam memaksanya pergi, menarik lehernya yang sakit. aku tidak mendengar! saat aku berbaring dikamar aku mendengar jeritan dari bawah, "bang vito ga gerak!!!" aku berlari, membuka kandang lalu memegang dia, tubuhnya masih hangat tetapi sudah kaku. aku mencoba menggoyangnya, dia sudah pergi! malaikat hitam sudah merantai lehernya, menyeretnya dengan kasar, karena dia masih ingin tetap disini.
aku memberikan sentuhan terakhir. memandikannya untk terakhir kali, entah berapa kali aku memandikannya semenjak dia tinggal disini. namun seingatku, dia terakhir mandi bulan desember. setelah itu dia tidak mandi, kembali aku menyesal! sambil tetap memandikannya, aku melihat tatap matanya yang sudah kosong, namun aku masih dapat menangkap tatapan itu. tolong! aku sakit! lakukan sesuatu! seakan tatapan itu baru saja ditinggalkan secara paksa. aku terus menahan agar kuat. aku malu meneteskan air mata di depan vito yang sudah kaku ini.pitbull memiliki "high pain tolerance" seingatku. vito akan marah darisana melihat aku sedih dan menangis. meskipun sakit yang dia rasa, dia tidak menangis, dan tidak teriak! tidak meneteskan air mata! aku harus seperti itu. walaupun akhirnya pun aku tetap meneteskan air mata. maaf sahabat! maaf kawan! aku lemah!
berkawan 3 orang aku membawa dia menuju tempat dia beristirahat. dia beristirhat bukan di tempat mewah seperti di hills. hanya di sebuah tanah kosong milik papa yang rencananya akan kubuat peternakan dan studio. 2 meter kebawah 1 meter kesamping dibawah pohon mangga yang baru saja ditanam mama, dia tertidur, berselimut seprai cokelat yang memeluknya dari senin lalu. deras air mata dapat kubendung sendiri. doa terlontar secara sporadis dari dalam hatiku, semoga Tuhan mendengar doa ku. untuk sahabatku ini! doaku tidak megancam, hanya memohon tempatkan dia disana bersama bruno, dan kimmy.
selamat jalan sahabatku, ini obat terbaik buat kamu, kata seorang yang sangat aku sayangi, dan aku mengangguk setuju. mungkin saat aku menulis ini kau sudah sampai disana. tempat dimana tidak ada ketakutan dan rasa sakit. kau hanya akan berlari terus di taman yang luas. tidak seperti dirumah kita, kau berlari dan harus segera melambat karena teralu sempit. kau juga tidak perlu minum dari ember merah besar itu, yang sering kau dan bill kencingi. kau minum langsung dari sungai deras, dengan air jernih. kau tidak perlu menunggu untuk makan, tidak ada jadwal ketat untuk makan. seingatku saat menimbang terakhhir beratmu 31kg, mungkin akan segera naik cepat saat kau disana.
aku mencoba terus mengingat tentang kamu. tentang bagaimana kamu menjilat, mengendus, manja! kau gagah, kau sangar, namun begitu aku mengelus badan dan kepalamu, kau berguling pasrah seperti anak anjing. luapan air di kantong mataku kembali memenuh. aku akan segera mengakhii tulisan ini, aku benci akhir, aku benci berpisah, aku benci pulang! aku benci pulang, itu ungkapan manja orang yang sangat aku sayangi, aku juga benci. tapi jika pulang dan dapat kembali aku masih dapat menerimanya. jika seperti kau yang pulang dan tidak kembali aku benci!
memori tentang kamu, akan tetap hidup disalah satu bagian hatiku. kau tetap vito corleone yang gemuk dan gagah. yang berteriak jika ada orang asing. tidak akan ada yang menggantikanmu. aku akan menyampaikan salam terakhirmu kepada om erwin yang membantu mu lahir,ayahmu Aramir, dan Don saudaramu. walau aku pun tidak tahu Don ada dimana sekarang.
papo,mamo,aku,aldi,ofel,iren,caca,keluarga besar Op.tanriko,dan semua yang pernah kenal dan berinteraksi denganmu sangat kehilangan. kau pergi begitu cepat. kita semua sayang kamu. semoga kau tenang dan senang disana sahabat!
untuk sahabat, penjaga serta teman bermain terbaik yang pernah aku miliki.
Vito Corleone Von Guardian
Meskipun gue serem melihat Vito. Tapi tetep ga tega klo harus mendengar raungan kesakitan. Vito sudah pergi dengan bahagia, tak akan pernah merasakan sakit lagi. Mungkin dia sedang berlayar bersama Bruno dan Kimmy.
BalasHapusSelamat jalan Vito meskipun aku belum pernah bertemu :)