Rabu, 28 Maret 2012

satu perjuangan!

satu perjuangan, satu perjuangan!

kami berteriak lantang dibawah panggangan alam. menyuarakan perasaan dan aspirasi kami yang lama terpendam. diam bukan tak kuasa bersuara, tidak bergerak bukan berarti cacat. kami diam karena kami kian terpuruk, ditengah himpitan persoalan ekonomi yang tak pasti, kami masih harus bertahan ditengah lingkungan sosial yang tidak menentu. kami saling merangkul dan memapah! melawan apa yang sebenarnya tidak harus kami lawan. hukum yang seharusnya melindungi kami berbalik menjadi predator yang memburu kami, penguasa yang kami harapkan menjadi shelter tempat kami berlindung, berbalik menjadi perangkap jahanam yang mencoba membunuh kami. kami bersatu, kami bersatu! mencoba keluar dari keterpurukan ini. kami akan terus berjuang tanpa letih. kami tidak ingin duduk santai dan berpangku tangan. sejarah telah kami ukir,reformasi harus terus berputar tak berhenti. darah dan peluh yang dulu telah tertumpah  merupakan pengingat dan penyemangat untuk membangunkan kami agar tidak berhenti berjuang! 

untuk kawan-kawanku yang turun ke jalan! 
totalitas perjuangan!

Minggu, 18 Maret 2012

euforia masa kecil

satu hari ini terasa ceria!

aku larut kedalam euforia indah masa kecil. mereka selalu tertawa dan gembira, tak berbeban. aku mencoba melayangkan pikiranku ke masa kecil ku, dimana aku pernah  mengecap manis masa itu. terbangun dengan suara sayup-sayup mama yang memanggil untuk cepat bangun dan bergegas bersiap untuk kesekolah. siaran radio pagi yang didengar papa saat ia menyeruput kopi bergema diseluruh ruangan, dan aku masih sibuk memakai seragam sekolah sambil sarapan. lalu aku bergegas berangkat. tidak ada beban didalam benaku saat itu. beban terberatku adalah kumpulan buku yang kugendong ditasku. waktu kecil terhabiskan dengan bermain dan berlari. 
Jika saja masih bisa tetap begitu. berlari liar, tertawa, lalu melompat setiap saat!

aku terlelap rupanya!

hoaaammm . . . 

Kamis, 15 Maret 2012

sela 3

aku dan kamu tidak pantas mempertanyakan,
kenapa aku memilih kamu?
mengapa kita bersama?
sampai kapan seperti ini?

karena semua sudah ditulis 
dan
 kita hanya akan bermain dan mengikutiNya



hari kita

setiap hari aku selalu menghadapi hari yang sama. sama dengan kemarin, kemarin bahkan kemarinnya. 
disapa dengan senyuman serta pelukan virtual darimu. lalu kita berbincang ringan tentang mimpi  
semalam.
sementara diluar rumah mentari sudah hampir sampai ke pucuk, kita masih terbungkus selimut dan berangan saling memeluk. jariku terus berdansa manja dengan tuts membalas pesan yang kau kirim, tak terasa sudah tengah hari rupanya. aku bersiap untuk melangkahkan kaki dan berlari menemuimu.

diperjalanan jemariku tetap tidak berhenti menari, padahal 15 menit lagi bertemu pikirku. sudahlah memang kita tak bisa terpisah! 
dari kejauhan aku melihat kamu berdiri menunggu aku datang, dengan wajah setengah muram kau berkata "panas banget tau!" aku tersenyum, seraya "halo sayang!" kamu membalas dengan pelukan hangat.

perbincangan  bersela canda terus  berlangsung hingga kita lupa waktu.  sudah petang rupanya, dan kita mulai melangkah pulang. setiap menit yang  terhabiskan bersama merupakan momen yang tidak dapat terganti, meski besok bertemu momen ini tak akan berulang. 
canda terbungkus tawa,  hingga debat  panjang  tak berujung kita nikmati sebagai sebuah menu makanan hari-hari yang tidak membuat bosan

aku sibuk berlutut dan bertelut.
berdoa dan berharap akan terus begini, kita bertahan walau ada kemelut




Rabu, 14 Maret 2012

kamu mau jadi apa?

kamu mau jadi apa?

beberapa kali pertanyaan itu dilempar kepadaku. pikirku, urusannya apa sama kalian? kalian bisa merubah hidupku? engga kan! basa basi yang terasa busuk dimataku, tidak ada kesungguhan dalam pertanyaan remeh macam itu.hanya aku dan diriku sendiri yang pantas mempertanyakan, mau jadi apa aku? mau kemana besok? makan apa besok? menikah dengan siapa? 
aku masih menyusuri jalan panjang ini, mencari kolase kehidupan yang tercecer. mengumpulkannya lalu mencoba untuk mengisi titik-titik pertanyaan kamu mau jadi apa?
ini sebuah kolase misteri yang meminta untuk dipecahkan, sesuatu yang harus dicari bukan ditunggu. sesuatu yang harus dijawab, bukan dipertanyakan.

tentang aku mau jadi apa, aku jawab sekarang
karena kolase itu sudah terpungut

aku mau jadi orang senang

perspektif tentang esensi seorang aku!

Senin, 12 Maret 2012

kemelut

aku mengayuh sepeda merah ini sekuat tenagaku
berkeliling dan berputar menerus
kerikil, rumput, lumpur lalu laut

tak peduli!

terik menyengat punggung dan ketiakku
ku bertahan tidak memaki dan teriak!
terpaan kasar angin malam menghujam rusuk
menusuk hingga ruh ku berontak

aku terus mengayuh dan mempercepat kayuhku
kau terus membidik ku dengan tatapan tajam
menunggu waktu merobohkanku!

sial!

anak panah itu menembus lututku
aku tidak kuat mengayuh, aku terjatuh
tersungkur!
darah segar mengucur dari lutut

aku bertelut!
semoga ini hanya kemelut rekaanku yang mungkin sore nanti akan surut!

Minggu, 11 Maret 2012

tentang kantuk!

suara jangkrik terdengar di sekitar alam
mengawal hari terang menuju malam
mentari yang sedari pagi terang benderang
cahayanya melemah dan temaram

tubuhku berjalan lunglai
aku mencoba bertahan tak terkulai 
kantuk menggelayut manja di punggung
aku seperti menimang gunung

aku berusaha tak terlelap

tak kuasa

dan aku berakhir terhempas di pelukan busa!

Rabu, 07 Maret 2012

arah lamunan!

malam belum sepenuhnya terkubur,
pagi pun belum bangkit


kita masih melamun, berpikir, berbicara, diam
ngablu tepatnya

jemari terus menari
 mengukir semua rencana
"aku suka berencana seru mu!"

otak terus melamun
merangkai semua lamunan
"aku suka ngabluh seru ku!"

entah kemana arah lamunan dan ngablu ini!

siapa yang tahu?

aku? 

kamu?

siapa yang tahu?

Senin, 05 Maret 2012

sela 2

mereka, kamu, kalian coba menolongku

sia-sia!

aku  sudah terjerambah masuk kedalam jurang kesedihan
sebelum kalian berlari dan sadar
aku sudah kehabisan pegangan untuk bertahan
aku tersungkur, tubuhku terbentur

tetapi aku tidak hancur




Kamis, 01 Maret 2012

perayaan kematian

aku menggunakan kemeja hitam, tanda berkabung. aku berkumpul di rumah duka, tempat ini dirundung mendung. kami merasakan hal yang sama, kehilangan sosok yang begitu kami cintai.
aku duduk merenung disudut rumah ini, aku menyaksikan ekspresi sedih, dan jerit perih dari banyak orang. mereka menangis, berteriak! entah apa yang ada di pikiran mereka! hei, dia sudah pergi dengan tenang, jangan kau usik dengan lengkingan tangismu.

aku berhenti.
titik air terlihat di pipi kiriku, membasahi janggut tipisku. 
aku tak ubahnya wanita tadi, yang melengking melolong, tetapi didalam kesunyianku.

aku mulai menikmati perayaan ini, 
menikmati perjamuan kesedihan yang dihidangkan
suara tangis merupakan melodi indah bagiku, 
airmata serupa rintikan hujan yang mengiringi perayaan kematian ini.

aku diam
menikmatinya