Luapan kesedihan, dan jerit isak air mata tidak membawa kamu kembali,
Alunan nada doa, akan membuat kamu tersenyum manis diatas sana.
Kamis, 20 September 2012
Secarik surat didalam kotak
Jejak itu masih tercecer di samping rumah, dibelakang halaman, disudut sempit belakang kepalaku, dihatiku.
Seketika kopi pahit yang sedianya kuseruput, terbelah 2 gelasnya pagi itu Awan hitam seketika mengerubung disekitar. Firasat tak menentu, berkecamuk, kepalaku terasa terantuk lalu tertunduk.
30an kilometer jauhnya darisini kamu terlintang kaku. Tak ada yang tahu.
Kamu naik kereta cepat menuju tempat baru pagi itu.
Tanpa ucap terima kasih, peluk hangat dan kecup nikmat. Kau melangkah anggun naik kereta itu. Kepalamu sekali keluar berharap ada yang melambaikan sapu tangan salam perpisahan kepadamu, nyatanya tidak. Tidak juga aku yang sibuk berkutat di depan komputer besar ini.
sekembalinya pulang, kulihat ruangan itu kosong, dindingnya tetap putih dan porselennya mengkilap, minus kotoran dan debu. Tidak ada lagi kau yang duduk manis menunggu aku hingga aku pulang. Meski tengah malam kau terbangun dan berharap aku menegur barang semenit sebelum aku masuk dan terlelap.
Kamu ya kamu, semoga kau sudah sampai disana. Berlarian dirumput luas dengan kawananmu. Titip salam untuk dia ibu dengan 12 anak, mungkin anaknya sudah besar dan dia sudah menjadi nenek. Juga untuk pejuang kekar yang namanya kuambil dari tokoh sentral film mafia. Tidak lupa juga untuk si pirang yang mungkin makin gemuk disana.
Sampai hari ini aku lupa bertanya apakah kamu sedang mengandung? Kalau iya, si putih ini bersedih karena kau duluan membawa si kecil di perutmu, segeralah melahirkan dan kirim gambar kemari.
Untuk kamu yang selalu ada didalam kotakku.
Pandora
Seketika kopi pahit yang sedianya kuseruput, terbelah 2 gelasnya pagi itu Awan hitam seketika mengerubung disekitar. Firasat tak menentu, berkecamuk, kepalaku terasa terantuk lalu tertunduk.
30an kilometer jauhnya darisini kamu terlintang kaku. Tak ada yang tahu.
Kamu naik kereta cepat menuju tempat baru pagi itu.
Tanpa ucap terima kasih, peluk hangat dan kecup nikmat. Kau melangkah anggun naik kereta itu. Kepalamu sekali keluar berharap ada yang melambaikan sapu tangan salam perpisahan kepadamu, nyatanya tidak. Tidak juga aku yang sibuk berkutat di depan komputer besar ini.
sekembalinya pulang, kulihat ruangan itu kosong, dindingnya tetap putih dan porselennya mengkilap, minus kotoran dan debu. Tidak ada lagi kau yang duduk manis menunggu aku hingga aku pulang. Meski tengah malam kau terbangun dan berharap aku menegur barang semenit sebelum aku masuk dan terlelap.
Kamu ya kamu, semoga kau sudah sampai disana. Berlarian dirumput luas dengan kawananmu. Titip salam untuk dia ibu dengan 12 anak, mungkin anaknya sudah besar dan dia sudah menjadi nenek. Juga untuk pejuang kekar yang namanya kuambil dari tokoh sentral film mafia. Tidak lupa juga untuk si pirang yang mungkin makin gemuk disana.
Sampai hari ini aku lupa bertanya apakah kamu sedang mengandung? Kalau iya, si putih ini bersedih karena kau duluan membawa si kecil di perutmu, segeralah melahirkan dan kirim gambar kemari.
Untuk kamu yang selalu ada didalam kotakku.
Pandora
Langganan:
Komentar (Atom)