aku duduk tepat dimana kemarin pagi aku masih menyuapi semangkuk daging kaleng untuk sahabatku sebelum ia berkemas dan pergi.
aku masih merasakan dia disini, dia masih berputar-putar disini. mungkin dia masih ingin menyapa bill, kawan berbagi makanan dan tempat tidur. mungkin dia masih ingin mengencingi ember merah itu.aku merasakannya.
jika kau memang masih disini, kemari biarkan aku menyuapi kau. bukan karena kau lapar, tetapi karena aku menginginkannya. biarkan aku mengusap kepalamu, dan bertanya bagaimana sakitmu? biarkan aku berlari mengikutimu, berputar-putar rumah.
hawa dingin pagi ini menusukku dalam-dalam. aku masih tidak percaya kau tidak ada disana lagi. tidak berdiri gagah disebelah bill yang hanya sebesar pahamu itu. aku melihat tatap sayu mata bill, mungkin dia bertanya, kemana vito? kenapa semalam dia tidak disini atau di pekarangan? kenapa kau terlihat sedih? wajahmu kusam, menyimpan kesedihan. kenapa semua orang sedih? kenapa? kenapa? kenapa? kenapa?
mungkin pertanyaan itu akan terus menusuk-menusuknya, hingga satu hari dia sadar sahabatnya sudah pergi dan tidak kembali.
aku tidak mau larut, tenggelam, dan mati di lautan kesedihan ini. tapi alam pun sedih pagi ini. matahari terlihat murung dibalik ketiak awan, angin meniupkan hawa dingin
alam pun berelegi,
menyanyikan melodi-melodi kesedihan
mengiringi kepergianmu sahabat!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar